RIVIEW FILM "THE BANG BANG CLUB"

RIVIEW FILM "THE BANG BANG CLUB"

Dalam daerah konflik pada medan perang antara dua negara, media menjadi jembatan paling penting untuk menyampaikan kejadian di daerah tersebut. Dari tidak perhatian, pemberitaan media bisa membuat konflik menjadi pusat perhatian. Tapi mengejar berita, foto, maupun video di daerah konflik/medan perang bukan perkara mudah nyawa yang menjadikan taruhannya.
THE BANG BANG CLUB adalah kisah nyata dari empat fotografer muda pemberani yang masuk ke dalam pertempuran ras : Greg Marinovich (Ryan Phillippe), Joao Silva (Neels Van Jaarsveld), Kevin Carter (Taylor Kitsch), dan Ken Oesterbroek (Frank Rautenbach). Karena niat mereka yang kuat untuk bercerita yang sebenarnya kepada dunia melalui kamera, tidak peduli usaha mereka tersebut dapat mempertaruhkan nyawa mereka karena kebrutalan perang rasial dan kekerasan terkait pemilu bebas pertama pasca apartheid di Afrika Selatan era 90-an.
Mereka berjuang untuk hidup dan bekerja keras selama periode ini agar dapat menunjukkan karya terbaik mereka kepada dunia. Berlari, sembunyi, uji nyali di antara desingan peluru dan di tengah pertikaian, membuat jantung berdebar. Tanpa tahu apa yang akan mereka temui dan dapatkan, kamera terus membidik ke segala arah. Aroma perjuangan terasa kental sepanjang film ini konflik yang pecah berlangsung kolosal. Apalagi tindakan-tindakan sadis dan brutal selama konflik juga digambarkan dengan jelas. Anda akan terbawa pada suasana Afrika Selatan yang memanas suhu politiknya.
Greg Marinovich mendapatkan Pulitzer Prize dengan karya foto jurnalisnya 'Zulu Spy 1992' (supporters SAANC burning alive a man) dan Kevin Carter mendapatkan Pulitzer Prize dengan karya foto jurnalisnya 'Bearing Witness 1994' (gadis sudan kelaparan yang di dekatnya ada burung bangkai sedang menunggu gadis tersebut mati untuk dimakan).


Tidak lengkap rasanya jika film tidak dilengkapi tanpa bumbu cinta. Melengkapi cerita, setiap tokoh mendapat bagian untuk menceritakan wanita yang mereka cintai atau sekedar kencan. Pada akhirnya, penonton akan dibawa pada kesimpulan bahwa tanpa ada narasi pun, foto bisa menjadi penutur yang kuat untuk kondisi konflik. kata kata hanya menjelaskan satu makna namun foto meskipun hanya sebuah gambar tetapi menjelaskan seribu makna di dalamnya.
Film ini diangkat dari buku berjudul MARINOVICH AND SILVA. Buku yang bertutur tentang sensasi ketegangan pasca perang ras di Afrika Selatan dan moral untuk mengungkap kebenaran ini ditulis oleh Greg Marinovich dan Joao Silva setahun setelah tewasnya Oesterbroek dan bunuh dirinya Kevin Carter pada Juli 1994.

Komentar

Postingan Populer